
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA — Tim “Mie Ayam” dari Prodi S1 Sistem Informasi, Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) meraih juara 3 nasional pada gelaran Gemastik XVII 2025 dalam Divisi Pengembangan Bisnis TIK (ICT Business Development). Kompetisi yang berlangsung pada 27–31 Oktober 2025 di Telkom University itu mempertemukan mahasiswa dari kampus-kampus terbaik di Indonesia.
Gemastik, yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), bertujuan meningkatkan kompetensi dan inovasi mahasiswa dalam berbagai bidang teknologi informasi, mulai dari pemrograman, keamanan siber, data, hingga pengembangan bisnis digital.
Tim Mie Ayam diketuai Satriyo Imam Arifin Wahono dengan anggota Isaac Thesisabie Khatami Shabri dan Regi Muhammar, serta bimbingan Cendra Devayana Putra.
“Ini menjadi pencapaian membanggakan dan bersejarah bagi Unesa, setahu kami ini untuk pertama kalinya Unesa membawa pulang medali sejak 17 tahun penyelenggaraan Gemastik,” ujar Satriyo ketua tim.
Dalam ajang itu, mereka menghadirkan inovasi “Tenangin”, sebuah platform terapi kesehatan mental berbasis AI dengan Personal Assistance Guide untuk mendeteksi kecemasan, burnout, dan PTSD melalui teknologi NLP dan Speech Emotion Recognition. Platform ini juga menawarkan pendampingan avatar virtual yang bersifat personal.
Satriyo menjelaskan bahwa Tenangin berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya kasus gangguan mental di kalangan remaja dan mahasiswa. Survei nasional seperti I-NAMHS 2022 dan SKI 2023 mencatat lebih dari 2,5 juta remaja Indonesia mengalami gangguan mental terdiagnosis, terutama kecemasan, depresi, dan PTSD.
Ia menerangkan bahwa aplikasi dirancang mudah diakses untuk membantu pengguna mengenali dan mengelola kondisi emosional. Sistem menganalisis suara melalui NLP dan Speech Emotion Recognition, lalu memberikan rekomendasi relaksasi, afirmasi, hingga pendampingan avatar virtual sesuai kebutuhan pengguna.

www.unesa.ac.id
“Aplikasi ini sudah sampai tahap Minimum Viable Product (MVP) dan telah diuji oleh konselor, ahli teknologi, serta lebih dari 400 mahasiswa. Kami juga bekerja sama dengan mitra eksternal dalam tahap pilot project,” katanya.
Satriyo menuturkan bahwa tantangan terbesar tim terletak pada substansi yang mereka angkat. Tidak ada anggota yang berlatar belakang kesehatan sehingga mereka harus melibatkan psikolog dan konselor untuk validasi materi. “Kami konsultasi ke beberapa konselor dan mendapat banyak masukan berharga. Prosesnya cukup menantang,” ujarnya.
Tantangan berikutnya muncul ketika mekanisme pitching berubah hanya satu jam sebelum presentasi. Kondisi itu menuntut mereka beradaptasi cepat. “Walaupun waktunya mepet karena perubahan mendadak, kami tetap berusaha maksimal. Alhamdulillah bisa memberikan hasil terbaik untuk Unesa,” tambahnya.
Dosen pembimbing, Cendra Devayana Putra, mengatakan bahwa keputusannya mendampingi tim ini didasari rekam jejak prestasi para anggotanya dalam berbagai kompetisi. Menurutnya, mereka memiliki ide kuat, eksekusi rapi, dan motivasi belajar yang tinggi.
Ia menilai Tenangin sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini yang rentan mengalami tekanan akademik, tuntutan organisasi, hingga persoalan pribadi.
“Lebih dari 400 mahasiswa sudah memanfaatkan Tenangin. Ini menunjukkan bahwa produk ini benar-benar dibutuhkan. Harapan saya aplikasi ini terus dikembangkan dan dapat menjangkau pengguna lebih luas,” pungkasnya. []
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Mie Ayam
Share It On: