
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menempuh langkah strategis dalam memperkuat rekognisi internasional. Sebanyak lima program studi (prodi) di lingkungan Fisipol menjalani proses visitasi akreditasi internasional oleh tim asesor Accreditation, Certification, and Quality Assurance Institute (ACQUIN) pada Jumat, 30 Januari 2026.
Kelima prodi yang dimaksud meliputi S-1 Ilmu Komunikasi, S-1 Pendidikan Sejarah, S-1 Sosiologi, S-1 Pendidikan IPS, dan S-1 Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn). Proses asesmen lapangan ini dipusatkan di Gedung Fisipol, Kampus Unesa I Ketintang, Surabaya.
Salah satu yang dilakukan tim asesor lembaga yang berbasis di Jerman itu meninjau langsung fasilitas pendukung pembelajaran. Di Laboratorium Ilmu Komunikasi, delapan asesor melihat secara dekat proses produksi talk show yang dilakukan mahasiswa.
Mereka mengamati seluruh rangkaian produksi, mulai dari perencanaan konten, penyusunan naskah, pengaturan studio, hingga teknis audio-visual dan penyuntingan.
Dekan Fisipol Unesa, Wiwik Sri Utami, menegaskan bahwa kesiapan visitasi ini didukung oleh ekosistem pembelajaran yang kuat, terutama pada aspek kompetensi praktis.
"Laboratorium dan studio yang kami miliki menjadi modal penting dalam memenuhi standar internasional, terutama terkait kolaborasi dan inovasi mahasiswa," ucapnya.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center Unesa, Bambang Sigit Widodo, menyampaikan bahwa langkah ini sejalan dengan target besar institusi untuk meningkatkan mutu pendidikan hingga diakui secara global.
Menurutnya, akreditasi internasional merupakan upaya terukur untuk memastikan kualitas lulusan Unesa relevan dengan tuntutan dunia internasional.
Koordinator Prodi Ilmu Komunikasi, Anam Miftakhul Huda, menambahkan bahwa akreditasi ACQUIN memberikan kerangka evaluasi objektif untuk menilai kesesuaian kurikulum dan penelitian dengan standar global.
"Standar mutu pendidikan saat ini tidak lagi cukup diukur pada konteks nasional, tetapi harus selaras dengan praktik internasional. Proses ini mendorong terciptanya budaya mutu (quality culture) yang berkelanjutan di lingkungan prodi," tuturnya.
Salah satu asesor ACQUIN dari University of Göttingen, Jerman, Fritz Schulze, menjelaskan bahwa proses akreditasi ini mencakup penilaian menyeluruh terhadap berbagai indikator utama.
Hal tersebut meliputi program akademik, tata kelola kepemimpinan, kualitas sumber daya manusia, penelitian, internasionalisasi, hingga sistem penjaminan mutu internal.
“Seluruh aspek tersebut dinilai untuk melihat sejauh mana institusi memenuhi standar global serta menunjukkan komitmen nyata terhadap peningkatan mutu yang berkelanjutan,” papar Fritz Schulze. ][
Share It On: