
Kadang, membahagiakan orang tua itu sederhana, bagi mahasiswa cukup persembahkan toga di hari wisuda, itu sudah cukup mengukir senyum di wajah mereka yang semakin menua. Bayar keringat mereka dengan kelulusan! Bisa lebih dari itu, lebih bagus lagi. Tetap semangat bagi yang masih berjuang!
Unesa.ac.id. SURABAYA— Belajar pemrograman tidak cukup hanya memahami teori. Bagi Muhammad Zaini Rochman, pemahaman justru semakin kuat ketika konsep yang dipelajari langsung diterapkan dalam proyek nyata. Pendekatan tersebut ia terapkan selama menempuh pendidikan di Program Studi S-1 Pendidikan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), hingga mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik Fakultas Teknik dengan IPK 3,96 pada wisuda ke-121 Unesa, pada 12 Agustus 2026 lalu.
Pengalaman learning by doing tersebut kemudian ia bawa ke dalam skripsinya melalui pengembangan Learning Management System (LMS) berbasis website yang terintegrasi Project-Based Learning untuk meningkatkan kompetensi kognitif pada elemen Object-Oriented Programming (OOP).
Berbeda dari LMS yang sekadar menjadi tempat menyimpan modul pembelajaran, sistem yang dikembangkan Zaini dirancang untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek. Ia melengkapinya dengan fitur OOP Analyzer yang ditujukan untuk membantu siswa SMK belajar pemrograman melalui pengerjaan proyek nyata.
Menurut Zaini, pendekatan tersebut berangkat dari ketertarikannya terhadap dunia development, khususnya pengembangan aplikasi mobile dan web. Baginya, teknologi bukan sekadar alat, melainkan sarana untuk menyelesaikan persoalan secara nyata.
Ketertarikan itu terus dikembangkan selama kuliah. Selain mengikuti pembelajaran di kelas, Zaini aktif mengeksplorasi berbagai bahasa pemrograman, seperti Flutter dan Laravel. Ia juga mengembangkan sejumlah proyek, di antaranya aplikasi gim kuis dan sistem perpustakaan digital, serta terlibat dalam organisasi kemahasiswaan.
Pengalaman mengerjakan berbagai proyek membuatnya terbiasa menerapkan konsep yang diperoleh di kelas secara langsung. Cara belajar tersebut menjadi salah satu strategi yang ia gunakan untuk menjaga performa akademik sekaligus mengembangkan kemampuan teknis.
“Learning by doing adalah cara belajar yang saya terapkan. Dengan membangun proyek langsung dan mengaplikasikan teori, saya bisa lebih memahami fundamental sekaligus meningkatkan kemampuan,” ujarnya.
Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Perkembangan teknologi yang cepat menuntutnya terus belajar, sementara aktivitas akademik, organisasi, dan pengerjaan proyek harus tetap berjalan. Masalah teknis seperti error dan bug juga menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi.
Namun, dari proses tersebut Zaini justru belajar memecahkan masalah dan mengatur waktu. Pengalaman itu pula yang membantunya ketika mengembangkan LMS untuk penelitian skripsi. Ia dapat melihat secara langsung bagaimana siswa menggunakan sistem yang dikembangkannya sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Salah satu pengalaman lain yang turut memperkaya proses belajarnya adalah pengembangan Apps Amerta Nusantara bersama tim. Aplikasi mobile tersebut memadukan teknologi dengan misi pelestarian budaya Indonesia.
Bagi Zaini, berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan memahami persoalan dan bekerja dengan orang lain. Karena itu, ia tidak hanya mendorong mahasiswa untuk menguasai satu keahlian teknis secara mendalam, tetapi juga mengembangkan soft skill, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Setelah menyelesaikan studi, Zaini berencana mengembangkan karier sebagai Software Developer. Ia ingin terus mengeksplorasi teknologi untuk menghasilkan produk digital yang skalabel, stabil, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia berharap pengalaman selama menjadi mahasiswa dapat menjadi bekal untuk terus berinovasi sekaligus memberi kontribusi melalui teknologi.
“Harapan saya, Unesa dapat terus berkembang sebagai kampus penghasil inovator berkualitas, mahasiswa diharapkan antusias dalam menimba ilmu dan berani berinovasi, sementara dosen terus menjadi mentor yang membimbing mahasiswa sekaligus problem solver di masyarakat,” tandasnya.][
***
Penulis: Hasna
Editor: @zam*
Dok: Muhammad Zaini Rochman
Share It On: